Serba-Serbi Cerita Mahasiswa S3 Pendidikan Vokasi Unesa
Surabaya, 10 November 2025 — Pagi yang tenang di stasiun kereta api Lamongan setahun yang lalu menjadi pengalaman mendebarkan bagi Ata Syifa Nugraha, seorang mahasiswa Program Doktor Pendidikan Vokasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Hari itu, ia berniat menghadiri kegiatan akreditasi asesmen lapangan untuk program studi S-3. Namun, serangkaian kejadian tak terduga mewarnai perjalanannya. Berangkat pukul 05.00 WIB, Ata memulai perjalanannya dengan optimisme. Cuaca mendung khas pagi hari di Lamongan tidak menyurutkan semangatnya. Dengan tas yang sudah berisi laptop dan dokumen penting, ia menuju stasiun untuk menaiki kereta menuju Surabaya.
Namun, perjalanan menuju stasiun tidak semulus yang dibayangkan. Di tengah perjalanan, sebuah kecelakaan lalu lintas terjadi mengakibatkan kemacetan parah. “Awalnya saya berpikir akan tepat waktu. Tapi, jalanan penuh dengan kendaraan yang berhenti akibat kecelakaan,” ujarnya. Ia nyaris kehilangan waktu untuk mengejar kereta yang sudah dijadwalkan berangkat pukul 05.40 WIB. Sesampainya di stasiun, Ata berhasil naik ke kereta tepat waktu. Namun, saat memeriksa barang bawaannya, ia menyadari ada yang tertinggal—helm yang harus dibawa ke UNESA yang menjadi bagian dari atribut wajib untuk pulang dengan memakai motor. Helm itu tertinggal di kursi tunggu stasiun.
“Saya langsung panik. Helm itu penting untuk untuk perjalanan pulang saya nanti,” katanya sambil mengingat kembali momen menegangkan itu. Tanpa berpikir panjang, ia turun dari kereta untuk mengambil helmnya. Saat kembali, kereta hampir bergerak meninggalkan peron. Dalam suasana genting, petugas stasiun yang menyadari situasi memberikan izin bagi Ata untuk melompat ke dalam kereta yang mulai berjalan perlahan. “Itu momen yang sangat mendebarkan. Saya bersyukur petugas membolehkan saya naik kembali,” ungkapnya dengan nada lega.
Meskipun perjalanan penuh tantangan, Ata berhasil tiba di UNESA tepat waktu untuk mengikuti asesmen lapangan. Namun, pengalaman pagi itu memberikan pelajaran mendalam tentang pentingnya persiapan dan kesigapan dalam menghadapi situasi tak terduga. Ketika ditanya tentang bagaimana ia menjalani kegiatan setelah pengalaman menegangkan tersebut, Ata menjawab, “Saya mencoba untuk tetap fokus dan profesional. Semua itu bagian dari perjalanan hidup.”
Kisah Ata bukan hanya tentang perjuangan individu menghadapi tantangan teknis. Ini adalah cerita tentang semangat, keberanian, dan pentingnya dukungan dari pihak-pihak yang peduli, seperti petugas stasiun yang memberikan kelonggaran pada situasi kritis. Dalam konteks kegiatan akreditasi, kejadian ini mengingatkan pentingnya pengelolaan waktu dan manajemen stres, terutama bagi mahasiswa yang tengah menghadapi momen penting dalam pendidikan mereka. Kisah ini menjadi inspirasi di hari pahlawan 2025 bahwa meskipun tantangan menghadang, tekad yang kuat akan membawa seseorang menuju tujuan yang diimpikan. (Ata/ADA/Byu)
Share It On: